
Gerakan Sekolah SADAR TBC: Edukasi dan Pengawasan Minum Obat untuk Menurunkan Risiko Penularan Tuberkulosis di SMA Negeri Jatinangor Menuju Generasi Indonesia Emas
a_s.png)
Jatinangor — Tuberkulosis (TBC) masih menjadi persoalan kesehatan yang serius
di Indonesia, termasuk di Kabupaten Sumedang. Di tengah tingginya mobilitas dan
interaksi sosial remaja, lingkungan sekolah berpotensi menjadi ruang penularan
apabila pemahaman mengenai TBC masih rendah. Berangkat dari keprihatinan
tersebut, sebuah tim pengabdian kepada masyarakat menggagas Gerakan
Sekolah Sadar TBC di SMA Negeri Jatinangor sebagai upaya preventif berbasis
edukasi.
Program ini merupakan bagian
dari skema Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Internal Akademi Farmasi
Bumi Siliwangi dengan dukungan pendanaan sebesar Rp5.000.000
dan dilaksanakan dalam kurun waktu satu tahun, yakni sejak September
2025 hingga Agustus 2026. Periode tersebut memungkinkan tim untuk
tidak hanya melakukan satu kali edukasi, tetapi juga melakukan pendampingan,
pemantauan, serta evaluasi berkelanjutan terhadap dampak program di lingkungan
sekolah.
Kegiatan yang berlangsung di
aula sekolah ini diikuti antusias oleh puluhan siswa. Sejak awal, suasana
terasa berbeda dari pembelajaran biasa—materi disampaikan secara interaktif,
diselingi diskusi, studi kasus, dan sesi tanya jawab yang hidup. Para siswa
tidak hanya mendengarkan, tetapi juga diajak berpikir kritis tentang bagaimana
TBC menular, siapa yang berisiko, serta bagaimana cara mencegahnya.
Kegiatan ini dipimpin oleh Dr.
Apt. Cszahreyloren Vitamia, S.Farm., M.Si. selaku Ketua Tim
Pengabdian kepada Masyarakat. Ia menekankan bahwa edukasi di tingkat
sekolah menengah merupakan langkah strategis dalam memutus rantai penularan
TBC.
“Remaja memiliki peran penting
sebagai agen perubahan di lingkungan keluarga dan masyarakat. Pemahaman yang
benar tentang TBC—mulai dari cara penularan hingga pentingnya kepatuhan minum
obat—dapat mengurangi stigma sekaligus meningkatkan kewaspadaan,” ujarnya.
Secara substantif, program ini
bertujuan meningkatkan literasi kesehatan siswa mengenai TBC, mencakup
pengertian penyakit, tanda dan gejala seperti batuk berkepanjangan, cara
penularan melalui udara, langkah pencegahan, serta pentingnya menyelesaikan
pengobatan secara tuntas bagi penderita. Selain itu, kegiatan juga mendorong
penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai langkah preventif di
lingkungan sekolah dan kehidupan sehari-hari.
Metode pelaksanaan dirancang
berbasis partisipasi. Sebelum pemaparan materi, siswa mengerjakan pre-test
untuk memetakan pemahaman awal mereka. Setelah sesi edukasi menggunakan media
PowerPoint, diskusi kelompok, dan tanya jawab, mereka kembali mengerjakan post-test.
Hasilnya menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan—indikasi bahwa
pendekatan interaktif lebih efektif dibanding ceramah satu arah.
Kegiatan ini juga melibatkan
mahasiswa sebagai fasilitator. Mereka tidak hanya menyampaikan materi, tetapi
juga berperan sebagai pendamping diskusi, membantu menjembatani bahasa ilmiah
agar lebih mudah dipahami remaja. Di sisi lain, siswa-siswi SMA Negeri
Jatinangor berperan sebagai mitra sasaran yang aktif, mengajukan pertanyaan
seputar pencegahan, penggunaan masker, ventilasi ruangan, hingga kebiasaan
hidup sehat.
Sebagai bagian dari
keberlanjutan program, tim pengabdian menyerahkan poster dan banner edukasi
tentang TBC untuk dipasang di area strategis sekolah. Media visual ini
diharapkan menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah tentang pentingnya
kewaspadaan terhadap TBC sepanjang tahun pelaksanaan program.
Melalui Gerakan Sekolah Sadar TBC, SMA Negeri Jatinangor tidak hanya menjadi tempat belajar akademik, tetapi juga ruang pembentukan kesadaran kesehatan. Inisiatif ini diharapkan berkontribusi pada upaya pencegahan dan pengendalian TBC di tingkat komunitas sekolah—sejalan dengan visi mewujudkan generasi muda yang sehat, tangguh, dan siap menyongsong Generasi Indonesia Emas.
Tulis Komentar